Selasa, 06 November 2012

Pidato anak bertema pendidikan

Pidato ini saya buat ketika saya diminta membimbing siswa kelas V untuk mengikuti LKGS (lomba kreatifitas guru dan siswa)



Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Yang saya hormati Ibu kepala sekolah ......... beserta segenap guru dan teman-teman siswa SD....... yang saya banggakan.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT , karena berkat nikmat, dan karuniaNyalah pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul di tempat ini.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada panutan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliah atau zaman kebodohan, ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Hadirin yang saya hormati, pada kesempatan ini izinkan saya menyampaikan sedikit pesan tentang pendidikan dan karakter bangsa.
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam hidup kita. Dengan pendidikan kita dapat mengenal siapa diri kita, mengenal siapa tuhan kita, mengenal bagaimana caranya bersikap terhadap sesama. Pendidikan mendewasakan kita dalam bersikap dan berperilaku dan pendidikan juga membentuk jadi diri atau disebut juga karakter.
Jika kita berbicara mengenai karakter, secara tidak langsung kita juga berbicara tentang sikap dan pendirian kita sebagai bangsa. Karakter itu sendiri merupakan watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian  seseorang  yang terbentuk dari hasil penghayatan berbagai pemahaman yang   diyakini sebagai cara bersikap dan bertindak. Pemahaman tersebut dapat berupa pemahaman nilai-nilai di lingkungan dan  adat  yang berlaku.
Hadirin yang saya hormati.
Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, karena terdiri dari banyak pulau yang dipisahkan lautan. Di setiap pulau tersebut terdapat penduduk yang memilliki budaya yang beragam namun tetap menjunjung tinggi nilai persatuan dan kemanusiaan. Kesopansantunan masyarakat Indonesialah yang membuatnya dikenal di mata dunia sebagai negara yang ramah.
Akan tetapi, saat ini Indonesia sedang berduka, karena banyak sekali masyarakkatnya yang  bertikai. Di televisi kita lihat kerusuhan terjadi hampir terjadi setiap hari di berbagai daerah di tanah air. Mulai dari hal yang sepele sampai hal yang rumit selalu diselesaikan dengan kekerasan. Bahkan para pelajar sering sekali terlibat tauran karena masalah sepele.
Hadirin yang saya hormati, di manakah karakter bangsa kita yang terkenal rukun dan ramah? Apakah karakter itu sudah hilang? Tidak! Sebnarnya kita mampu menguatkan kembali karakter tersebut jika kita sama-sama memulainya, bahu-membahu menerapkan dan memperkokoh kembali adat istiadat dengan berperilaku jujur, santun, sabar, dan senantiasa menghargai sesama. Niscaya kita bisa memupuk kembali karakter bangsa kita yang mulai luntur karena globalisasi

Pidato Anak Tentang Kesehatan


Pidato ini saya buat ketika saya diminta membimbing siswa kelas 5 untuk mengikuti LKGS (lomba kreatifitas guru dan siswa) 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Yang saya hormati Ibu kepala sekolah SD....... beserta segenap guru SDIT Ibadurrahman dan teman-teman siswa SD....... saya banggakan.
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT , karena berkat nikmat, dan karuniaNyalah pada hari yang berbahagia ini kita dapat berkumpul di tempat ini.
Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada panutan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman jahiliah atau zaman kebodohan, ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Hadirin yang saya hormati, pada kesempatan ini izinkan saya menyampaikan sedikit pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan.
Kesehatan adalah nikmat yang tak terhingga dari tuhan yang maha kuasa yang patut kita syukuri. Karena dengan tubuh yang sehat kita bisa beraktifitas dengan leluasa, semangat belajar akan tumbuh, begitupun semangat beribadah. Kesehatan tidak dapat ditukar dengan apapun, walaupun dengan  harta berlimpah. Banyak orang harus membayar mahal demi kesehatan, bahkan menghabiskan seluruh hartanya untuk mendapat kesehatan.

Selasa, 07 Agustus 2012

Ada apa dengan guru dan UKG?


Oleh : Saeful Ma'ruf
Tes uji kompetensi guru (UKG) yang dilakukan beberapa hari lalu mendapat banyak sorotan. Mulai dari pelaksanaannya yang terkesan terburu-buru, matinya server saat pelaksanaan, sampai dengan rumor yang beredar di kalangan guru bahwa UKG memengaruhi tunjangan dan pangkat/golongan. Media massa pun – lokal dan nasional – tak  henti memberitakan perkembangan terakhir dari pelaksanaan UKG.
Para guru – terutama di daerah – seakan  gelisah dengan adanya program UKG ini. Selain  rumor tentang tunjangan, beredar juga kabar bahwa banyak guru bersertifikat belum mampu menguasai teknologi komunikasi (komputer) terutama guru sekolah dasar. Mungkin hal ini pula yang menyebabkan para guru bersertifikat gelisah dan takut jika nilai mereka rendah kemudian tunjangan pun berkurang. Padahal Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah berulang kali menegaskan bahwa UKG ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan tunjangan dan kenaikan pangkat atau kolongan. Kemendikbud mengungkapkan bahwa program UKG  ini bertujuan untuk memetakan kemampuan guru – terutama yang telah mengantongi sertifikat – untuk kemudian dilakukan tindak lanjut seperti melakukan workshop di daerah yang memang nilainya pada UKG ini di bawah standar nasional.

Rabu, 11 April 2012

Keberuntungan



Kali ini saya mencoba peruntungan dan mengasah kemampuan yang saya dapat dari bangku kuliah. Saya membuat beberapa surat lamaran pekererjaan yang kemudian ditujukan ke sekolah yang menurut saya cukup favorit. Pertama ditujukan ke salah satu sekolah Madrasah Aliyah di kecamatan Kragilan. Saya pikir sekolah itu cukup baik dan sedang berkembang pesat menghadapi persaingan mendapatkan minat orang tua siswa. Prestasi bidang akademik dan non akademik sekolah itu juga sedang menggeliat, ini dapat terlihat dari kompetensi lulusan yang cukup baik dan banyaknya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu.
Tentu saya terus berharap dan tak henti berdoa agar lamaran yang saya ajukan segera dibaca oleh kepala sekolah dan mendapat tanggapan. Namun, tuhan berkehandak lain, setelah dua minggu saya tunggu kabar itu tetap saja tak ada jawaban. Mungkin sekolah itu  kuota guru di sekolah itu sudah cukup atau mungkin juga lamaranku tak lengkap karena saat itu ijazah belum turun dari kampus. Dengan berbekal  Surat Keterangan Lulus (SKL) saya tak begitu saja menyerah. Saya mencoba kembali melamar ke sekolah lain. Kali ini SMP 18 Kota Serang yang menjadi harapan saya.
Sebetulnya saya bukanlah pengangguran kelas berat yang harus pusing ke sana kemari mencari pekerjaan. Saya masih belum berhenti bekerja di SD Negeri tempat saya mengajar sekaligus menimba ilmu dan pengalaman. Akan tetapi entah mengapa saya ingin sekali keluar dari SD itu, kebosanan begitu menggangguku.
Ada beberapa hal yang membuat saya bosan dan tidak betah. Pertama, saya merasa malu pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar karena setelah lulus kuliah saya hanya mengabdikan diri di kampung halaman. Saya pikir mengabdikan diri di kampung halaman itu nanti saja kalau saya sudah sukses atau berhasil di luar. Ada juga selentingan masyarakat yang kadang saya dengar, ”kalau mau di desa saja ya tak usah kuliah juga bisa”. Banyak teman-teman yang tak berkuliah tapi dia mampu membangun kampungnya dengan bermodalkan ketekunan dan keuletan. Saya bukan tidak ingin seperti mereka tapi yang saya ingin lakukan adalah mengangkat nama kampung halaman dengan prestasi-prestasi saya di luar dan membuat teman-teman, tetangga, dan orang-orang di kampung bangga melihat prestasiku kemudian timbul keinginan dalam benak mereka untuk mengikuti jejak saya.

Selasa, 10 April 2012

Motor Butut, Tetap Bersyukur




Pagi ini pinggang saya terasa sakit, perut saya agak kembung dan mulai malas makan. Sepertinya penyakit saya kambuh lagi. Sakit pinggang dan perut kembung sering sekali saya alami belakangan ini. Apalagi jika sering bepergian ke kota serang. Ini semua tak lain karena jalan yang rusak parah. Jalan yang saya lalui setiap hari bukan lagi jalan berlubang, tapi jalan berbatu tak beraspal.
Jalan rusak ini hampir setiap hari saya lalui dan dampaknya sekarang saya sering sakit pinggang karena badan saya terlalui sering dikocok oleh motor dan jalan rusak. Lebih parah lagi motor saya sekarang semakin bobrok, shockbreaker yang sudah tidak empuk lagi ditambah mesin yang tak bertenaga membuat perjalanan terasa semakin berat walaupun jalan yang rusak parah hanya 2 km.
Setiap hendak berangkat kuliah atau ada keperluan lain ke kota Serang, saya pasti melewati jalan ini. Jalan yang melintasi kampung Kalak dan Cibonteng desa Lebak Wangi Walantaka ini sudah lama tak pernah dibangun. Terakhir saya merasakan jalan ini diaspal sekira tahun 2006-2007 ketika saya masih SMA. Sudah cukup lama memang.
Terkadang terbersit dalam pikiran kinginan untuk mengganti sepeda motor butut saya dengan yang baru. Tapi, jika mengingat penghasilan dari mengajar yang hanya sekira 400.000 per bulan, saya merasa itu hal yang berat untuk dilakukan. Untuk uang muka cicilan motor saja saya harus mengumpulkan selama tiga sampai empat bulan. Keinginan itu terpaksa aku kubur dalam-dalam.
Semenjak saya dibelikan sepeda motor oleh bapak ketika SMA dulu, saya tidak pernah meminta uang kepada bapak untuk biaya perawatan atau servis motor. Semua saya usahakan sendiri, entah itu dari uang jajan yang saya kumpulkan atau dari upah yang saya terima jika saya diminta membantu pekerjaan orang lain (ngetik tugas atau makalah). Oleh karena itu, saya merasa enggan meminta kepada orang tua untuk dibelikan motor baru.
Terkadang rasa malu pada teman-teman sekampung sering muncul. Mereka yang hanya lulusan SMA malah berpenghasilan lebih besar dari saya yang lulusan S1. Rata-rata gaji mereka setiap bulan diatas 1 juta rupiah, walaupun hanya sebagai karyawan biasa (buruh pabrik) tapi sudah mencapai level upah minimum.
Andai saja gaji guru honorer disamakan dengan upah minimum karyawan, saya yakin tidak akan ada demo guru honorer yang meminta segera diangkat menjadi PNS. Ya, tapi itu hanya harapan dan sangat jauh rasanya untuk terwujud karena yang saya alami tidak demikian. Gaji yang didapat dari sekolah hanya 8% dari dana BOS yang diperoleh sekolah. Jika siswa sekolah tersebut sedikit maka gaji honorer pun sedikit pula. Maka jangan heran ketika sekarang sekolah-sekolah negeri lebih mengejar kuantitas dari pada kualitas saat membuka penerimaan siswa baru. Kalau menurut bahasa di kampung saya ”los teuing bodo oge, nu penting muridna loba”.
Ketika menerima gaji, saya  jadi sering berpikir kapan saya akan bisa menikah dengan gaji sekecil ini. Untuk kredit motor saja tidak cukup apalagi membeli mas kawin. Akhirnya timbulah pikiran buruk. Saya suudzon kepada Tuhan dan saya pikir Tuhan itu tidak adil. Mengapa Tuhan tidak memberikan petunjuk, jalan, dan kemudahan kepada saya untuk membeli motor baru (motor gede), padahal saya sudah bekerja keras dan tak henti-hentinya berdoa.
Ternyata setelah pikiran buruk itu muncul, akhirnya  Tuhan menjawab apa yang saya pikirkan, namun dengan caraNya sendiri. Tiba-tiba ketika hendak mengajar motor saya rusak, agak alot ketika digas. Ternyata gear dan rantai motor saya sudah aus, klaher roda belakang rusak, kampas rem cakram aus, oli mesin belum diganti selama dua bulan, dan karburator kotor. Lengkaplah sudah kerusakan motor dan penderitaan yang saya alami.
 Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran saya. Setelah mengajar, saya langsung membelikan onderdil motor yang diperlukan dan membongkarpasangnya sendiri. Kebetulan saya sedikit paham tentang motor dari pergaulan sehari-hari, terkecuali bagian mesin, saya angkat tangan. Akhirnya habislah sudah cadangan uang di dompet, yang tersisa hanya KTP, SIM, dan STNK. Lelah rasanya,  saya hanya bisa merenung, memikirkan segala yang terjadi.
Sedikit demi sedikit, kini saya mengerti maksud tuhan memberikan semua ini. Tuhan yang maha penyayang dan maha pemelihara melihat saya belum siap, Tuhan juga tidak ingin melihat saya mengalami kesulitan dikemudian hari. Mengurus motor bebek saja saya masih kewalahan. Untuk membeli bensin dan Oli-nya  saja saya masih kedodoran, apalagi jika saya diberi amanat oleh tuhan berupa motor gede.  Mungkin saya belum sanggup merawatnya.
Sekarang yang bisa saya lakukan adalah mensyukuri apa yang saya miliki. Saya pernah membaca Ayat Al-Qur’an yang berbunyi: ..... sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu .....
Semoga dengan saya bersyukur Tuhan akan menambah nikmatNya, amin.

Serang, November 2011