Rabu, 11 April 2012

Keberuntungan



Kali ini saya mencoba peruntungan dan mengasah kemampuan yang saya dapat dari bangku kuliah. Saya membuat beberapa surat lamaran pekererjaan yang kemudian ditujukan ke sekolah yang menurut saya cukup favorit. Pertama ditujukan ke salah satu sekolah Madrasah Aliyah di kecamatan Kragilan. Saya pikir sekolah itu cukup baik dan sedang berkembang pesat menghadapi persaingan mendapatkan minat orang tua siswa. Prestasi bidang akademik dan non akademik sekolah itu juga sedang menggeliat, ini dapat terlihat dari kompetensi lulusan yang cukup baik dan banyaknya kegiatan ekstrakurikuler di sekolah itu.
Tentu saya terus berharap dan tak henti berdoa agar lamaran yang saya ajukan segera dibaca oleh kepala sekolah dan mendapat tanggapan. Namun, tuhan berkehandak lain, setelah dua minggu saya tunggu kabar itu tetap saja tak ada jawaban. Mungkin sekolah itu  kuota guru di sekolah itu sudah cukup atau mungkin juga lamaranku tak lengkap karena saat itu ijazah belum turun dari kampus. Dengan berbekal  Surat Keterangan Lulus (SKL) saya tak begitu saja menyerah. Saya mencoba kembali melamar ke sekolah lain. Kali ini SMP 18 Kota Serang yang menjadi harapan saya.
Sebetulnya saya bukanlah pengangguran kelas berat yang harus pusing ke sana kemari mencari pekerjaan. Saya masih belum berhenti bekerja di SD Negeri tempat saya mengajar sekaligus menimba ilmu dan pengalaman. Akan tetapi entah mengapa saya ingin sekali keluar dari SD itu, kebosanan begitu menggangguku.
Ada beberapa hal yang membuat saya bosan dan tidak betah. Pertama, saya merasa malu pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar karena setelah lulus kuliah saya hanya mengabdikan diri di kampung halaman. Saya pikir mengabdikan diri di kampung halaman itu nanti saja kalau saya sudah sukses atau berhasil di luar. Ada juga selentingan masyarakat yang kadang saya dengar, ”kalau mau di desa saja ya tak usah kuliah juga bisa”. Banyak teman-teman yang tak berkuliah tapi dia mampu membangun kampungnya dengan bermodalkan ketekunan dan keuletan. Saya bukan tidak ingin seperti mereka tapi yang saya ingin lakukan adalah mengangkat nama kampung halaman dengan prestasi-prestasi saya di luar dan membuat teman-teman, tetangga, dan orang-orang di kampung bangga melihat prestasiku kemudian timbul keinginan dalam benak mereka untuk mengikuti jejak saya.

Mungkin terdengar terlalu jauh untuk dicapai, tapi saya yakin jika tuhan berkehendak maka terjadilah, kun fayakun. Jujur saja saya ini penggemar kartun manga Naruto dan menonton kartun itu membuat saya cukup termotivasi. Maaf, saya harus bercerita sedikit tentang Naruto. Saya senang dengan tokoh kartun ini, walaupun Naruto terlihat bodoh tetapi dengan semangat dan tekad yang kuat dalam dirinya ia mampu meningkatkan kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya juga mencapai cita-citanya menjadi Hokage (pemimpin negara api/Konoha). Dengan tekad dan mental bajanya ia mampu melampaui level kekuatan teman-teman, guru, bahkan Hokage itu sendiri. Terdengar konyol memang, tapi saya ingin seperti dia. Dulu diperolok kemudian menjadi pahlawan. Bagi saya hal yang mampu motivasi diri, bisa kita dapat di mana saja di sekitar kita. Bukan hanya melalui acara Golden Ways, atau Neo Demo Crazy. Jika kita peka, kita bisa manangkap pesan dari alam bahkan film kartun, hehe.
Hal kedua yang membuat saya tidak betah yaitu, karena saya merasa selalu menjadi bulan-bulanan salah seorang guru di SD Negeri tempat saya mengajar saat ini. Setiap ada pekerjaan yang diberikan kepala sekolah, pasti dia selalu meminta agar dia yang mengerjakannya, bisa juga dikatakan ”Carmuk”. Akan tetapi setiap pekerjaan itu mencapai batas waktu penyerahan, pasti pekerjaan itu belum selesai atau selesai tapi ”berantakan” dan saya juga yang harus membereskannya. Jika saya tidak membantunya membereskan pekerjaan itu maka ia akan mengkambinghitamkan saya dengan dalih saya tidak mau membantunya saat ia ada kesulitan kemudian secara otomastis kepala sekolah menegur saya. Saya bukan tak mau dan tak mampu membantah apa yang ia katakan kepada kepala sekolah tentang saya. Saya tak bisa berbuat banyak karena kepala sekolah itu adalah saudara dekatnya dan di Indonesia saudara dekat adalah dewa penolong dan pelindung.
Alasan terakhir saya mencari tempat kerja baru dan ingin sekali pindah dari tempat kerja saya sekarang adalah karena saya ingin punya pengalaman lebih luas. Jika saya terus-terusan di kampung saya takut ketinggalan zaman dan kurang wawasan. Sudah mah dari kampung, kerja di kampung pula. Sejujurnya, desa saya cukup jauh dari kota. Untuk membeli koran saja saya harus ke pasar Ciruas yang jaraknya 10 km, untuk ke Warnet (Warung Internet) saya harus ke Kecamatan Walantaka atau Kragilan yang jaraknya sekira 6-7 km dari rumah saya. Di kampung saya sinyal pun susah, hanya sinyal XL saja yang cukup bagus karena memang tower pemancarnya ada di desa Sukamaju (tetangga desa) itu pun tak selamanya bagus, karena jika mati lampu sinyalnya ikut mati. Jadi, sulitnya memperoleh informasi di kampung membuat hati saya gerah ingin mengajar atau bekerja di kota. Jika berkumpul dengan teman-teman kampus saya terkadang agak malu karena ketinggalan informasi, karena informasi yang saya dapat hanya melalui TV dan radio. Ya, itu semakin membuat saya gerah dan ingin mencari tempat kerja baru.
Sebenarnya cita-cita saya yaitu ingin menjadi dosen, bukan guru. saya juga ingin sekali menjadi seorang editor bahasa di sebuah perusahaan penerbit buku atau  editor koran. Dengan semangat menggebu-gebu, saya selalu optimis semua itu dapat saya capai, saya selalu berusaha dan berdoa mudah-mudahan segera terwujud. Saya tuliskan harapan dan keinginan saya di sehelai kertas kemudian saya tempelkan di dinding kamar,; tepatnya di depan meja belajar. Tujuannya tak lain agar saya terus termotivasi untuk bisa mencapai apa yang saya tulis tadi.
Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya juga mengirimkan lamaran pekerjaan ke harian Radar Banten dan harian Banten Pos. Saya mendengar kabar dari teman katanya ada lowongan sebagai editor bahasa, tentu saja saya tidak melewatkan kesempata ini begitu saja.  Walaupun saya agak frustasi karena lamaran tempo hari di MAN dan SMP 18 seperti hilang ditelan bumi, lenyap tak pernah ada kabar. Sedikit pusing tentu ada di kepala, karena semua lamaran yang saya ajukan tidak pernah mendapat respon. Akhirnya, setelah dua minggu menunggu saya mendapat telepon dari Radar Banten, pagi sekira pukul 09.30 saya ditunggu di kantor Radar Banten untuk menjalani serangkaian tes kemampuan. Saya sangat bersemangat dan tidak lupa membuka buku-buku lama supaya lebih memahami dan tidak lupa dengan materi kebahasaan.
Sekira pukul 09.15 saya sudah sampai di lobi. Kebetulan ada seseorang yang juga sedang menunggu untuk menjalani tes kerja. Rupanya saya tidak sendirian. Saya sempat berbincang-bincang dengannya dia sarjana PAI dari IAIN Serang, aktif juga di Rumah Dunia Gola Gong. Saya rasa saingan saya ini berat.  Tak lama kemudian dua orang lagi datang untuk menjalani tes yang sama. Saya kenal mereka.  Ya, mereka adik tingkatku di kampus.
Serangkaian tes saya jalani. Tes pertama merupakan tes ketelitian, kami berempat disuguhi berita yang banyak kesalahan penulisan di dalamnya, baik itu kesalahan penulisan kata maupun kalimat dan kami harus menyuntingnya. Keesokan harinya kami menjalani tes kedua, kali ini merupakan tes pengetahuan umum. Kami berempat harus menyunting tiga berita yang penulisan kata dan kalimat di dalamnya sengaja dibuat salah. Di sinilah saya menyadari batas kemampuan saya dalam pengetahuan umum. Banyak nama menteri negara yang salah dan tertukar namanya karena tidak saya sunting. Saya gagal dan tidak lolos untuk tes berikutnya.
Walaupun saya gagal, tapi ada keberuntungan yang saya dapat, tuhan telah memperlihatkan di mana batas kemampuan saya, agar saya terpacu untuk lebih keras lagi belajar.

Kragilan-Serang, Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar