Kali ini saya
mencoba peruntungan dan mengasah kemampuan yang saya dapat dari bangku kuliah.
Saya membuat beberapa surat
lamaran pekererjaan yang kemudian ditujukan ke sekolah yang menurut saya cukup
favorit. Pertama ditujukan ke salah satu sekolah Madrasah Aliyah di kecamatan
Kragilan. Saya pikir sekolah itu cukup baik dan sedang berkembang pesat
menghadapi persaingan mendapatkan minat orang tua siswa. Prestasi bidang
akademik dan non akademik sekolah itu juga sedang menggeliat, ini dapat
terlihat dari kompetensi lulusan yang cukup baik dan banyaknya kegiatan
ekstrakurikuler di sekolah itu.
Tentu saya terus berharap
dan tak henti berdoa agar lamaran yang saya ajukan segera dibaca oleh kepala
sekolah dan mendapat tanggapan. Namun, tuhan berkehandak lain, setelah dua
minggu saya tunggu kabar itu tetap saja tak ada jawaban. Mungkin sekolah itu kuota guru di sekolah itu sudah cukup atau
mungkin juga lamaranku tak lengkap karena saat itu ijazah belum turun dari
kampus. Dengan berbekal Surat Keterangan
Lulus (SKL) saya tak begitu saja menyerah. Saya mencoba kembali melamar ke
sekolah lain. Kali ini SMP 18 Kota Serang yang menjadi harapan saya.
Sebetulnya saya
bukanlah pengangguran kelas berat yang harus pusing ke sana kemari mencari pekerjaan. Saya masih
belum berhenti bekerja di SD Negeri tempat saya mengajar sekaligus menimba ilmu
dan pengalaman. Akan tetapi entah mengapa saya ingin sekali keluar dari SD itu,
kebosanan begitu menggangguku.
Ada beberapa hal yang membuat saya bosan dan tidak betah. Pertama, saya
merasa malu pada diri sendiri dan orang-orang di sekitar karena setelah lulus
kuliah saya hanya mengabdikan diri di kampung halaman. Saya pikir mengabdikan
diri di kampung halaman itu nanti saja kalau saya sudah sukses atau berhasil di
luar. Ada juga selentingan masyarakat yang kadang saya dengar, ”kalau mau di
desa saja ya tak usah kuliah juga bisa”. Banyak teman-teman yang tak berkuliah
tapi dia mampu membangun kampungnya dengan bermodalkan ketekunan dan keuletan. Saya
bukan tidak ingin seperti mereka tapi yang saya ingin lakukan adalah mengangkat
nama kampung halaman dengan prestasi-prestasi saya di luar dan membuat
teman-teman, tetangga, dan orang-orang di kampung bangga melihat prestasiku
kemudian timbul keinginan dalam benak mereka untuk mengikuti jejak saya.
Mungkin terdengar terlalu jauh untuk dicapai, tapi saya yakin jika tuhan
berkehendak maka terjadilah, kun fayakun.
Jujur saja saya ini penggemar kartun manga Naruto dan menonton kartun itu
membuat saya cukup termotivasi. Maaf, saya harus bercerita sedikit tentang
Naruto. Saya senang dengan tokoh kartun ini, walaupun Naruto terlihat bodoh tetapi
dengan semangat dan tekad yang kuat dalam dirinya ia mampu meningkatkan
kekuatan untuk mengalahkan musuh-musuhnya juga mencapai cita-citanya menjadi
Hokage (pemimpin negara api/Konoha). Dengan tekad dan mental bajanya ia mampu
melampaui level kekuatan teman-teman, guru, bahkan Hokage itu sendiri.
Terdengar konyol memang, tapi saya ingin seperti dia. Dulu diperolok kemudian
menjadi pahlawan. Bagi saya hal yang mampu motivasi diri, bisa kita dapat di
mana saja di sekitar kita. Bukan
hanya melalui acara Golden Ways,
atau Neo Demo Crazy. Jika kita peka, kita bisa manangkap pesan dari alam bahkan
film kartun, hehe.
Hal kedua yang
membuat saya tidak betah yaitu, karena saya merasa selalu menjadi bulan-bulanan
salah seorang guru di SD Negeri tempat saya mengajar saat ini. Setiap
ada pekerjaan yang diberikan kepala sekolah, pasti dia selalu meminta agar dia
yang mengerjakannya, bisa juga dikatakan ”Carmuk”. Akan tetapi setiap pekerjaan
itu mencapai batas waktu penyerahan, pasti pekerjaan itu belum selesai atau
selesai tapi ”berantakan” dan saya juga yang harus membereskannya. Jika saya
tidak membantunya membereskan pekerjaan itu maka ia akan mengkambinghitamkan
saya dengan dalih saya tidak mau membantunya saat ia ada kesulitan kemudian
secara otomastis kepala sekolah menegur saya. Saya bukan tak mau dan tak mampu
membantah apa yang ia katakan kepada kepala sekolah tentang saya. Saya tak bisa
berbuat banyak karena kepala sekolah itu adalah saudara dekatnya dan di
Indonesia saudara dekat adalah dewa penolong dan pelindung.
Alasan terakhir saya mencari tempat kerja baru dan ingin sekali pindah dari
tempat kerja saya sekarang adalah karena saya ingin punya pengalaman lebih luas.
Jika saya terus-terusan di kampung saya takut ketinggalan zaman dan kurang
wawasan. Sudah mah dari kampung, kerja
di kampung pula. Sejujurnya, desa saya cukup jauh dari kota. Untuk membeli
koran saja saya harus ke pasar Ciruas yang jaraknya 10 km, untuk ke Warnet
(Warung Internet) saya harus ke Kecamatan Walantaka atau Kragilan yang jaraknya
sekira 6-7 km dari rumah saya. Di kampung saya sinyal pun susah, hanya sinyal
XL saja yang cukup bagus karena memang tower pemancarnya ada di desa Sukamaju
(tetangga desa) itu pun tak selamanya bagus, karena jika mati lampu sinyalnya
ikut mati. Jadi, sulitnya memperoleh informasi di kampung membuat hati saya
gerah ingin mengajar atau bekerja di kota. Jika berkumpul dengan teman-teman
kampus saya terkadang agak malu karena ketinggalan informasi, karena informasi
yang saya dapat hanya melalui TV dan radio. Ya, itu semakin membuat saya gerah dan
ingin mencari tempat kerja baru.
Sebenarnya cita-cita saya yaitu ingin menjadi dosen, bukan guru. saya juga
ingin sekali menjadi seorang editor bahasa di sebuah perusahaan penerbit buku
atau editor koran. Dengan semangat
menggebu-gebu, saya selalu optimis semua itu dapat saya capai, saya selalu
berusaha dan berdoa mudah-mudahan segera terwujud. Saya tuliskan harapan dan
keinginan saya di sehelai kertas kemudian saya tempelkan di dinding kamar,; tepatnya
di depan meja belajar. Tujuannya tak lain agar saya terus termotivasi untuk bisa
mencapai apa yang saya tulis tadi.
Untuk mewujudkan cita-cita itu, saya juga mengirimkan lamaran pekerjaan ke
harian Radar Banten dan harian Banten Pos. Saya mendengar kabar dari teman
katanya ada lowongan sebagai editor bahasa, tentu saja saya tidak melewatkan
kesempata ini begitu saja. Walaupun saya
agak frustasi karena lamaran tempo hari di MAN dan SMP 18 seperti hilang
ditelan bumi, lenyap tak pernah ada kabar. Sedikit
pusing tentu ada di kepala, karena semua lamaran yang saya ajukan tidak pernah
mendapat respon. Akhirnya, setelah dua minggu menunggu saya mendapat telepon dari
Radar Banten, pagi sekira pukul 09.30 saya ditunggu di kantor Radar Banten
untuk menjalani serangkaian tes kemampuan. Saya sangat bersemangat dan tidak
lupa membuka buku-buku lama supaya lebih memahami dan tidak lupa dengan materi
kebahasaan.
Sekira pukul 09.15 saya sudah sampai di lobi. Kebetulan ada seseorang yang
juga sedang menunggu untuk menjalani tes kerja. Rupanya saya tidak sendirian.
Saya sempat berbincang-bincang dengannya dia sarjana PAI dari IAIN Serang,
aktif juga di Rumah Dunia Gola Gong. Saya rasa saingan saya ini berat. Tak lama kemudian dua orang lagi datang untuk
menjalani tes yang sama. Saya kenal mereka.
Ya, mereka adik tingkatku di kampus.
Serangkaian tes saya jalani. Tes pertama merupakan tes ketelitian, kami
berempat disuguhi berita yang banyak kesalahan penulisan di dalamnya, baik itu
kesalahan penulisan kata maupun kalimat dan kami harus menyuntingnya. Keesokan
harinya kami menjalani tes kedua, kali ini merupakan tes pengetahuan umum. Kami
berempat harus menyunting tiga berita yang penulisan kata dan kalimat di
dalamnya sengaja dibuat salah. Di sinilah saya menyadari batas kemampuan saya
dalam pengetahuan umum. Banyak nama menteri negara yang salah dan tertukar
namanya karena tidak saya sunting. Saya gagal dan tidak lolos untuk tes
berikutnya.
Walaupun saya gagal, tapi ada keberuntungan yang saya dapat, tuhan telah
memperlihatkan di mana batas kemampuan saya, agar saya terpacu untuk lebih
keras lagi belajar.
Kragilan-Serang, Januari 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar