Pagi ini pinggang saya terasa sakit, perut saya agak kembung dan mulai malas makan. Sepertinya penyakit saya kambuh lagi. Sakit pinggang dan perut kembung sering sekali saya alami belakangan ini. Apalagi jika sering bepergian ke kota serang. Ini semua tak lain karena jalan yang rusak parah. Jalan yang saya lalui setiap hari bukan lagi jalan berlubang, tapi jalan berbatu tak beraspal.
Jalan rusak ini hampir setiap hari saya lalui dan dampaknya sekarang saya sering sakit pinggang karena badan saya terlalui sering dikocok oleh motor dan jalan rusak. Lebih parah lagi motor saya sekarang semakin bobrok, shockbreaker yang sudah tidak empuk lagi ditambah mesin yang tak bertenaga membuat perjalanan terasa semakin berat walaupun jalan yang rusak parah hanya 2 km.
Setiap hendak berangkat kuliah atau ada keperluan lain ke kota Serang, saya pasti melewati jalan ini. Jalan yang melintasi kampung Kalak dan Cibonteng desa Lebak Wangi Walantaka ini sudah lama tak pernah dibangun. Terakhir saya merasakan jalan ini diaspal sekira tahun 2006-2007 ketika saya masih SMA. Sudah cukup lama memang.
Terkadang terbersit dalam pikiran kinginan untuk mengganti sepeda motor butut saya dengan yang baru. Tapi, jika mengingat penghasilan dari mengajar yang hanya sekira 400.000 per bulan, saya merasa itu hal yang berat untuk dilakukan. Untuk uang muka cicilan motor saja saya harus mengumpulkan selama tiga sampai empat bulan. Keinginan itu terpaksa aku kubur dalam-dalam.
Semenjak saya dibelikan sepeda motor oleh bapak ketika SMA dulu, saya tidak pernah meminta uang kepada bapak untuk biaya perawatan atau servis motor. Semua saya usahakan sendiri, entah itu dari uang jajan yang saya kumpulkan atau dari upah yang saya terima jika saya diminta membantu pekerjaan orang lain (ngetik tugas atau makalah). Oleh karena itu, saya merasa enggan meminta kepada orang tua untuk dibelikan motor baru.
Terkadang rasa malu pada teman-teman sekampung sering muncul. Mereka yang hanya lulusan SMA malah berpenghasilan lebih besar dari saya yang lulusan S1. Rata-rata gaji mereka setiap bulan diatas 1 juta rupiah, walaupun hanya sebagai karyawan biasa (buruh pabrik) tapi sudah mencapai level upah minimum.
Andai saja gaji guru honorer disamakan dengan upah minimum karyawan, saya yakin tidak akan ada demo guru honorer yang meminta segera diangkat menjadi PNS. Ya, tapi itu hanya harapan dan sangat jauh rasanya untuk terwujud karena yang saya alami tidak demikian. Gaji yang didapat dari sekolah hanya 8% dari dana BOS yang diperoleh sekolah. Jika siswa sekolah tersebut sedikit maka gaji honorer pun sedikit pula. Maka jangan heran ketika sekarang sekolah-sekolah negeri lebih mengejar kuantitas dari pada kualitas saat membuka penerimaan siswa baru. Kalau menurut bahasa di kampung saya ”los teuing bodo oge, nu penting muridna loba”.
Ketika menerima gaji, saya jadi sering berpikir kapan saya akan bisa menikah dengan gaji sekecil ini. Untuk kredit motor saja tidak cukup apalagi membeli mas kawin. Akhirnya timbulah pikiran buruk. Saya suudzon kepada Tuhan dan saya pikir Tuhan itu tidak adil. Mengapa Tuhan tidak memberikan petunjuk, jalan, dan kemudahan kepada saya untuk membeli motor baru (motor gede), padahal saya sudah bekerja keras dan tak henti-hentinya berdoa.
Ternyata setelah pikiran buruk itu muncul, akhirnya Tuhan menjawab apa yang saya pikirkan, namun dengan caraNya sendiri. Tiba-tiba ketika hendak mengajar motor saya rusak, agak alot ketika digas. Ternyata gear dan rantai motor saya sudah aus, klaher roda belakang rusak, kampas rem cakram aus, oli mesin belum diganti selama dua bulan, dan karburator kotor. Lengkaplah sudah kerusakan motor dan penderitaan yang saya alami.
Mungkin Tuhan sedang menguji kesabaran saya. Setelah mengajar, saya langsung membelikan onderdil motor yang diperlukan dan membongkarpasangnya sendiri. Kebetulan saya sedikit paham tentang motor dari pergaulan sehari-hari, terkecuali bagian mesin, saya angkat tangan. Akhirnya habislah sudah cadangan uang di dompet, yang tersisa hanya KTP, SIM, dan STNK. Lelah rasanya, saya hanya bisa merenung, memikirkan segala yang terjadi.
Sedikit demi sedikit, kini saya mengerti maksud tuhan memberikan semua ini. Tuhan yang maha penyayang dan maha pemelihara melihat saya belum siap, Tuhan juga tidak ingin melihat saya mengalami kesulitan dikemudian hari. Mengurus motor bebek saja saya masih kewalahan. Untuk membeli bensin dan Oli-nya saja saya masih kedodoran, apalagi jika saya diberi amanat oleh tuhan berupa motor gede. Mungkin saya belum sanggup merawatnya.
Sekarang yang bisa saya lakukan adalah mensyukuri apa yang saya miliki. Saya pernah membaca Ayat Al-Qur’an yang berbunyi: ..... sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu .....
Semoga dengan saya bersyukur Tuhan akan menambah nikmatNya, amin.
Serang, November 2011